Senin, 21 Februari 2011

Peluang dan Kendala Pengembangan Agroindustri Sagu di Kabupaten Jayapura

Herlina Tarigan dan Ening Ariningsih
Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian
Jl. A. Yani 70, Bogor

Abstract
Beside as staple food, sago can be utilized as raw materials for agroindustry that plays roles in increasing community’s income through employment and value added generation.  This research aims to analyze the opportunities and constraints of sago agroindustry development in Jayapura District, Papua Province. Data analyzed are both primary and secondary data.  The result of the research shows that sago agroindustry has a relatively big opportunity to develop in Jayapura, considered from the geographic site of Jayapura, raw material availability, technology, and government policy.  On the other hand, it is faced to some main constraints, such as farming culture of sago farmers, and land ownership system which is controlled by local people while industrial activities are controlled by presentiments.  Furthermore, there’s no service office which officially in charge in the development of sago farmers.  Some policies needed to be implemented are:
(1) to decide and deliver sago development to one related technical service office, and (2) processing system should be considered as a part of demand side strategy, so that technology engineering and partnership development are urgent to realized.
Key word: agroindustry, sago, Jayapura

Abstrak
Selain sebagai bahan pangan pokok, sagu bisa digunakan sebagai bahan baku agroindustri yang berperan dalam peningkatan pendapatan masyarakat melalui penciptaan kesempatan kerja sekaligus penciptaan nilai tambah.  Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peluang dan kendala pengembangan agroindustri sagu di Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua. Data yang dianalisis meliputi data primer dan sekunder.  Hasil analisis menunjukkan bahwa agroindustri sagu mempunyai peluang yang cukup besar untuk dikembangkan, dilihat dari segi geografis, ketersediaan bahan baku, teknologi, maupun kebijakan pemerintah, namun kendala terbesar terletak pada budaya bertani petani sagu dan sistem pemilikan lahan yang dikuasai penduduk lokal sementara kegiatan industri dikuasai pendatang. Di sisi lain, belum ada dinas yang secara resmi menjadi penanggungjawab pengembangan maupun pembinaan petani sagu.  Beberapa kebijakan yang perlu diimplementasikan adalah memutuskan dan menyerahkan pengembangan dan pembinaan komoditas sagu pada salah satu dinas teknis, sistem pengolahan dipandang sebagai bagian dari subsistem agribisnis yang bisa berperan sebagai bagian dari pendekatan permintaan (demand side strategy) sehingga rekayasa teknologi dan membangun kemitraan mendesak untuk direalisasikan.
Kata kunci: agroindustri, sagu, Jayapura

I. PENDAHULUAN

Kegiatan agroindustri merupakan bagian integral dari sektor pertanian, yang mempunyai kontribusi penting dalam proses industrialisasi, terutama di wilayah pedesaan ((Suryana, 2004). Pengembangan agroindustri tidak saja ditujukan dalam rangka peningkatan jumlah pangan dan jenis produk pangan yang tersedia di pasar, tetapi bisa meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat melalui peningkatan produksi bahan baku dan nilai tambah, sekaligus meningkatkan ekonomi daerah. Pengembangan agroindustri turut menciptakan lapangan pekerjaan dan pengembangan pasar. 
Agar pengembangan agroindustri meningkatkan pendapatan penduduk pedesaan biasanya dilaksanakan dengan tiga pola yaitu: (1) agroindustri berintegrasi langsung dengan usahatani keluarga, (2) agroindustri berintegrasi langsung dengan perusahaan pertanian, dan (3) agroindustri tidak berlokasi di pedesaan.  Agroindustri pangan diharapkan menghasilkan produk-produk yang memiliki nilai tambah tinggi terutama produk siap saji, praktis dan memperhatikan masalah mutu (Lukminto, 2004).   Faktor lain yang perlu diperhatikan adalah harga produk yang lebih terjangkau, lokasi dekat dengan konsumen, tempat berbelanja yang nyaman dan penyajiannya yang baik (Ibrahim, 1997).
Kabupaten Jayapura merupakan salah satu wilayah di Provinsi Papua yang memiliki potensi sebagai sentra produksi sekaligus sentra konsumsi sagu, namun sampai saat ini agroindustri pengolahan sagu kurang berkembang.  Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peluang dan kendala pengembangan agroindustri sagu di Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua.



II. METODA PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua. Pemilihan lokasi dilakukan secara purposive dengan pertimbangan memiliki potensi sebagai sentra produksi sekaligus konsumsi sagu, industrinya sudah mulai dikembangkan dan posisinya dekat dengan Kota Jayapura sebagai ibukota provinsi sekaligus pintu gerbang perdagangan.
Data yang dianalisis meliputi data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara langsung dengan petani sagu (21 responden), pedagang sagu di pasar (2 responden), pelaku industri sagu (2 responden), pedagang pemasaran hasil industri (2 responden), dan instansi-instansi terkait seperti Disperta, Disbun dan Disperindagkop Kabupaten Jayapura.  Data dan informasi yang digali meliputi aspek pertanian sebagai pengahsil bahan baku untuk agroindustri sagu, agroindustri sagu, serta aspek penunjang yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi pengemabngan agroindustri sagu. Sementara itu, data sekunder berupa data luas areal, produksi tanaman sagu, dan harga bulanan sagu diperoleh BPS Provinsi Papua.  Data dianalisis secara kualitatif dan disajikan dalam bentuk deskriptif.

III.  HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1. Sekilas Kondisi Umum Produksi dan Konsumsi Sagu
Sagu merupakan bahan makanan pokok bagi masyarakat Papua terutama masyarakat yang berada di dataran rendah (pesisir pantai Utara) seperti di Kabupaten Jayapura. Menurut sejarahnya, pilihan mengkonsumsi sagu sebagai makanan pokok merupakan reaksi terhadap ketersediaan tumbuhan tersebut di sekitar tempat tinggal mereka.  Tanaman sagu tumbuh subur di dataran rendah berawa dengan beragam varietas. BPTP Papua sudah berhasil mengoleksi sekitar 64  jenis varietas sagu yang tumbuh di dataran rendah Papua.
Sampai tahun 2006, luas tanaman sagu di seluruh Provinsi Papua adalah sekitar 513,000 ha dengan produksi 139 ton dan melibatkan 1,663 petani (BPS Provinsi Papua, 2007). Di Kabupaten Jayapura terdata seluas 25,488 ha atau 4,97 persen dari luas tanaman sagu di Provinsi Papua.  Sebagian besar tanaman sagu masih merupakan tanaman liar yang tumbuh dengan sendirinya. Sedikit sekali yang sudah melakukan penanaman dengan budidaya yang sangat sederhana, tanpa jarak janam, tanpa pemupukan atau pemeliharaan intensif. 
Sekalipun merupakan sumber makanan pokok, belum ada dinas yang secara resmi menjadi penanggungjawab pengembangan maupun pembinaan petani sagu. Oleh karena itu, seluruh data menyangkut komoditas ini mengarah pada perkiraan. Penguasaan terhadap tanaman sagu umumnya berpijak pada keberadaan tanah adat.  Pemeliharaan dan pemanenan dilakukan secara bergotong royong dengan sesama anggota suku.  Teknologi pemanenan yang digunakan pun masih sangat sederhana, berupa pemotongan dengan kampak lalu dibelah dengan kayu. Sejak tahun 80-an petani berubah menggunakan alat belah berupa linggis.  Selanjutnya, sagu dikerok dengan pangkur, yang belakangan sudah menggunakan mesin yang sekaligus berfungsi untuk memarut.
Sebagian besar hasil panen sagu diproses menjadi bahan konsumsi pokok keluarga yang diolah dalam bentuk papeda dan kapurung. Sagu juga dikonsumsi sebagai makanan selingan seperti sagu lempeng, sinoli, bagea, dan buburnee. Jika ada sagu yang dijual, umumnya terbatas dalam bentuk pati sagu basah, belum diolah menjadi tepung sagu.  

3.2. Agroindustri Sagu dan Produk Olahannya
Agroindustri merupakan kegiatan dengan ciri: (a) meningkatkan nilai tambah, (b) menghasilkan produk yang dapat dipasarkan atau digunakan atau dimakan, (c) meningkatkan daya simpan, dan (d) menambah pendapatan dan keuntungan produsen (Hicks, 1995). Sifat kegiatannya mampu menciptakan lapangan pekerjaan, memperbaiki pemerataan pendapatan dan mempunyai kapasitas yang cukup besar untuk menarik pembangunan sektor pertanian.
Berdasarkan produk yang dihasilkan, kegiatan agroindustri termasuk pada kegiatan yang melakukan perubahan bentuk. Sagu yang diolah dapat digunakan sebagai bahan baku berbagai macam industri seperti industri pangan, industri perekat, kosmetika, pakan ternak, tekstil, farmasi, pestisida, industri kimia, bahan energi dan bahkan hasil sampingnya dapat diolah menjadi bahan bakar, medium jamur, pembuatan hardboard atau bahan bangunan (Kindangen dan Malia, 2003), dan juga biodegradable plastic (Pranamuda et al., 1996), 
Hingga tahun 2007, pengolahan sagu di Papua masih sebatas dalam industri pangan dengan pemanfaatan native starch (pati asli). Pengolahan produk pangan sagu bisa dibagi ke dalam tiga bentuk yaitu pertama, pengolahan sagu tradisional yang dikonsumsi langsung, baik oleh produsen maupun dijual ke konsumen;  kedua, pengolahan sagu menjadi tepung sagu; dan ketiga, pengolahan tepung sagu menjadi aneka kue sagu. Ketiganya dapat dikategorikan pada proses pengolahan yang masih sangat sederhana.
1. Pengolahan Sagu Tradisional
Pengolahan sagu secara tradisional merupakan bagian yang terbanyak dilakukan terutama oleh masyarakat lokal. Bagian tanaman sagu yang digunakan untuk bahan pangan adalah pati sagu berupa hasil ekstraksi dari empulur batang sagu.  Proses ekstraksi pati sagu masih menggunakan cara konvensional dengan alat manual. Setelah diparut, sagu diremas-remas dengan dicampur air kemudian disaring dan air hasil ekstraksinya diendapkan untuk diambil patinya.
Pada tahun 2000, LIPI memperkenalkan alat pemarut batang aren dan sagu yang dibuat oleh Balai Pengembangan Teknologi Tepat Guna.  Alat ini merupakan silinder bermata pemarut yang berputar pada porosnya. Pemarut ditujukan untuk agroindustri skala kecil pengolahan tepung aren dan sagu. Namun lokasi hutan sagu yang relatif jauh dari pemukiman dan sulit dijangkau alat transportasi merupakan hambatan untuk mengadopsi alat pemarut ini. Masyarakat mengharapkan bentuk alat yang fleksibel untuk dibawa sampai ke lokasi tanaman.
Produktivitas dan mutu pati sagu basah yang dihasilkan juga masih relatif rendah. Di tingkat petani, pati atau aci sagu basah dikemas dalam dua jenis kemasan berupa anyaman daun sagu (tumang) dan kantong (sak) tepung terigu. Berat rata-rata tiap kemasan sekitar 50-60 kg.  Pati sagu basah dijual dalam bentuk irisan-irisan tanpa dikemas. Setiap tumang diiris menjadi 30 irisan dengan harga jual Rp 10.000 per iris. Pedagang membeli dengan harga Rp 200.000 per tumang, sehingga penjualan eceran dapat memberi keuntungan lebih kurang Rp 100.000 per tumang.  Pati basah diolah menjadi papeda, sagu bakar dan sagu forno.
2. Pengolahan Tepung Sagu
 Pengolahan sagu skala industri sudah lama berkembang di Papua dengan produk utama adalah tepung sagu yang merupakan produk setengah jadi (intermediate product). Bahan baku pembuatan tepung sagu berupa pati sagu yang masih basah.  Satu tumang (sak) pati sagu atau sekitar 50-60 kg diaduk dengan air bersih dan disaring untuk mengeluarkan kotoran. Selanjutnya pati sagu diendapkan selama 3 hari untuk mengeluarkan getah lendir dan sisa ampas sagu, lalu  direndam dengan air selama 1 jam. Air yang dipakai merendam dibuang dan pati sagu dijemur selama 6 jam. Pati yang sudah kering digiling dengan mesin penggiling lalu diayak. Tepung sagu yang dihasilkan bisa mencapai 25 kg, yang kemudian dikemas dengan plastik ukuran 1 kg. Tepung sagu yang sudah dikemas bisa disimpan hingga satu tahun. Selama satu minggu pengrajin mampu mengolah pati sebanyak 6 tumang pada musim kemarau dan 4 tumang pada musim penghujan. Tepung sagu dipasarkan melalui supermarket di Jayapura, Timika, Sorong, dan Wamena bahkan pernah menjual ke Papua Nugini melalui jalur ekspor tidak resmi.
Dalam rangka pengembangan industri ini, pemerintah setempat pernah memberikan bantuan mesin pengering tepung sagu berkapasitas 1 ton per hari, namun alat  belum pernah digunakan karena keperluan bahan bakarnya terlalu  banyak, sehingga biaya operasionalnya tinggi dan kapasitasnya terlalu besar, sehingga memerlukan bahan baku yang banyak.

3. Pengolahan Aneka Makanan Berbahan Baku Tepung Sagu
Pada tingkat nasional, pati sagu sudah dapat digunakan dalam industri pangan sebagaimana tepung beras, jagung, kentang, gandum dan tapioka, baik sebagai bahan baku maupun sebagai bahan substitusi.  Pati sagu sudah lama dikenal dan digunakan dalam industri kecil dan skala rumah tangga, misalnya untuk membuat makanan kecil (kue) berupa ongol-ongol, kerupuk, bakso, empek-empek, soun, dan mi, bahkan tepung sagu juga dapat digunakan sebagai substitusi tepung gandum dalam memproduksi roti tawar dan biskuit.  Hasil uji organoleptik menunjukkan bahwa substitusi tepung terigu dengan pati sagu sampai 30 persen tidak mempengaruhi mutu produk yang dihasilkan (Pangloli dan Royaningsih, 1992).
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian juga mencoba membuat beras tiruan dengan bahan baku tepung sagu dan ubikayu (Samad, 2003). Beras tiruan tersebut memiliki komposisi bahan kimia yang  mirip dengan beras, yaitu kandungan karbohidrat sebesar 81,3-83,9 persen, protein 13 - 2,4 persen, dan lemak 0,21 -0,45 persen. Kandungan karbohidrat, protein, dan lemak pada beras adalah 77,9, 6,9, dan 0,7 persen. Kandungan karbohidrat beras tiruan jauh lebih tinggi. Hal ini yang menyebabkan masyarakat setempat mengaku lebih kenyang mengkonsumsi sagu daripada makanan pokok lain seperti beras. Beras tiruan juga mempunyai daya simpan dalam kondisi sudah dimasak mencapai 18 jam (lebih tahan lama dibanding beras). Namun, dalam penyimpanan dalam bentuk mentah beras tiruan ini lebih cepat rusak.
Pengolahan makanan yang berasal dari pati sagu belum berkembang dengan baik di Provinsi Papua. Baru dua industri skala kecil yang mengolah pati sagu basah menjadi tepung sagu dan aneka kue kering dengan bahan baku tepung sagu. Salah satu diantaranya sudah mampu membuat kue kering hingga 15 macam dengan essence rasa yang beragam mulai dari keju, jahe, coklat, dll.  Agar kemasannya lebih menarik, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Jayapura sudah merancang dan mencetak kemasan berupa kotak yang didesain sedemikian rupa hingga kue sagu layak menjadi ciri khas makanan Papua untuk dibawa keluar Papua baik sebagai oleh-oleh atau diperdagangkan lagi.  Namun, hingga kini perdagangan kue sagu masih sebatas pasar, toko atau swalayan di dalam Papua. 

3.3. Kendala Pengembangan Agroindustri Sagu di Jayapura
Kendala yang dihadapi dalam pengembangan agroindustri sagu di Jayapura dimulai dari ketersediaan bahan baku tumbuhan sagu yang belum terbiasa dibudidayakan sehingga sangat tergantung kepada alam.  Upaya pengembangannya sering terbentur pada budaya bertani sagu yang masih bersifat berburu-meramu atau tebang jual.  Penguasaan tanah berupa hak ulayat menjadi faktor yang menyulitkan upaya pengembangan.
Pengolahan sagu untuk pembuatan masakan yang dikonsumsi langsung, tepung sagu maupun kue aneka sagu, masih menggunakan teknologi yang sangat sederhana.  Inovasi teknologi berupa alat pemarut dan oven bertenaga listrik belum diadopsi oleh petani atau pengusaha industri dengan alasan lebih boros, rumit dan kapasitasnya yang terlalu besar dibanding penggunaan kompor minyak tanah.  Pengeringan tepung sagu lebih memilih menggunakan sinar matahari.
Permasalahan pengolahan sagu secara tradisional terletak pada kapasitas olah, rendemen dan mutu hasil yang rendah serta tingkat kehilangan hasil cukup tinggi. Sejak 1997, Balai Penelitain Kelapa (Balitka) sudah membuat alat yang berfungsi majemuk. Alat pengolah sagu yang terdiri atas tiga buah unit operasi yaitu pemarut, ekstraksi, dan pengendapan. Kapasitas olah alat mencapai 190 kilogram per jam atau setara dengan 1.600 kg per hari. Rendemen basah cukup tinggi, yaitu 24,5 -30 persen dan tingkat kehilangan hasil 2,4-32 persen. Air yang digunakan lebih hemat 4 sampai 5 liler per kilogram empulur. Namun harga alat tersebut masih relatif mahal bagi petani maupun pengusaha agroindustri sagu skala kecil, yaitu Rp 25.000.000 per unit.  Alat ini lebih cocok untuk agroindustri yang terintegrasi dari hulu (panen sagu) hingga pembuatan tepung.     Disamping itu, kapasitas produksi pati sagu harus relatif besar (lk. 10 batang sagu per hari). Penyediaan bahan mentah sedemikian banyak secara kontinyu belum memungkinkan.

3.4.   Peluang dan Tantangan Pengembangan Agroindustri
Berbagai faktor yang menjadi peluang dan tantangan dalam pengembangan agroindustri sagu di Kabupaten Jayapura adalah:
  • Daya dukung lahan untuk tanaman sagu di Kabupaten Jayapura cukup luas.  Demikian pula kondisi iklim di Kabupaten Jayapura dinilai sangat sesuai untuk pertumbuhan sagu. Umumnya tanaman sagu tumbuh sendiri tanpa dibudidayakan. Tanaman sagu cukup dominan di habitatnya sehingga tidak pernah ditumpangsarikan, tetapi bisa berkompetisi secara campuran (mix cropping) di hutan. Upaya untuk membudidayakan sagu dengan lebih intensif, produksi dan produktivitas sagu bisa ditingkatkan, sehingga dapat menjamin ketersediaan bahan baku bagi agroindustri sagu. Hal ini merupakan peluang yang bisa dimanfaatkan
  • Kebijakan Pemerintah Daerah Kabupaten Jayapura melalui Peraturan Daerah Kabupaten Jayapura No. 3/2000 tentang perlindungan hutan sagu sangat bermanfaat bagi kelestarian sumberdaya sagu. Disamping itu, agroindustri yang menggunakan bahan baku sagu perlu diberi porsi pembinaan yang memadai.
  • Selain peluang di atas, ada beberapa tantangan yang jika tidak ditangani dengan baik bisa mengancam perkembangan industri sagu, antara lain budaya panen tanpa budidaya, transportasi antar daerah/sentra yang mahal, daya serap produk olahan di pasar lokal yang terbatas dan perubahan selera konsumen dari sagu ke beras yang diperkuat adanya raskin.


IV. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN
Pengembangan agroindustri sagu di Kabupaten Jayapura mempunyai peluang yang cukup besar untuk dikembangkan, dilihat dari segi geografis, ketersediaan bahan baku, teknologi, maupun kebijakan pemerintah. Namun kendala terbesar terletak pada budaya bertani petani sagu dan sistem pemilikan lahan yang dikuasai penduduk lokal sementara kegiatan industri dikuasai oleh pendatang.
Langkah pertama yang perlu dilakukan dalam rangka mengembangkan agroindustri sagu adalah memutuskan dan menyerahkan pengembangan dan pembinaan komoditas sagu pada salah satu dinas teknis. Ini akan menuntun pemerintah melalui dinas terkait untuk lebih serius melakukan langkah operasional dalam pengembangan baik dari sisi peningkatan produksi agar bahan baku industri tersedia secara kontinu (Disperta/Perkebunan), pengolahan dan pemasaran (Disperindag),  teknologi (BPTP dan Mektan), maupun kelembagaan (KIPP).
Pengembangan agroindustri sagu sebaiknya diprioritaskan untuk mendorong pengembangan agroindustri kecil dan menengah di pedesaan. Karena sub sistem pengolahan merupakan kelanjutan dari sub sistem produksi maka bisa berperan sebagai bagian dari pendekatan permintaan (demand side strategy).
Teknologi yang kurang diadopsi memerlukan rekayasa ulang untuk menciptakan teknologi yang prosedur kerjanya lebih mudah dan murah. Kapasitas olah perlu disesuaikan dengan kemampuan ketersediaan bahan baku namun tetap dengan pertimbangan ekonomis.
Agar kegiatan agroindustri sagu bisa memberi peningkatan nilai tambah yang berkontribusi langsung pada peningkatan pendapatan petani maka perlu membangun pola kemitraan yang adil antara petani produsen sagu, pelaku industri berbahan baku sagu dan pelaku pasar yang dapat memenuhi permintaan pasar lokal maupun ekspor.  Pada tahap awal, pembentukan kerjasama ini perlu difasilitasi oleh pemerintah terutama dalam pembangunan infrastruktur, akses terhadap permodalan, pembinaan kewirausahaan dan promosi pasar.

DAFTAR PUSTAKA
BPS Provinsi Papua, 2007. Papua Dalam Angka 2006. BPS Provinsi Papua. Jayapura.
Hicks, P. A. 1995. An Overview of Issues and Strategies in The Development of Food Processing Industries in Asia and The Pacific, APO Symposium, 28 September-5 Oktober. Tokyo.
Ibrahim, D. 1997. Strategi Pemasaran Industri Pangan Dalam Globalisasi. Majalah Pangan. No. 33, Vol IX. Jakarta.
Kindangen, J. G. Dan I. E. Malia.  2003. Pengembangan Potensi dan Pemberdayaan Petani Sagu di Sulawasi Utara. Dalam Prosiding Seminar Sagu Nasional Sagu untuk Ketahanan Pangan. Manado, 6 Oktober. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan. Bogor.
Lukminto, H.  1997. Strategi Industri Pangan Menghadapi Pasar Global. Majalah Pangan No. 33, Vol. IX.
Pangloli. P. dan Royaningsih.  2993. Pengaruh Substitusi Terigu Dengan Pati Sagu dalam Pembuatan Biscuits Marie dan Cracker. Dalam Prosiding Simposium Sagu Nasional. Ambon, 12-13 Oktober 1992.
Pranamuda, M. Y. Tokiwa dan H. Tanaka. 1996. Pemanfaatan Pati Sagu Sebagai Bahan Baku Biodegradable Plastik. Makalah Simposium Nasional Sagu III. Pekanbaru, 27-28 Februari  1996.
Samad, M. Y. 2003. Pembuatan Beras Tiruan (Artificial Rice) dengan Bahan Baku Ubikayu dan Sagu. Prosiding Seminar Teknologi untuk Negeri 2003. Vol. II. Hal 36-40/Humas-BPPT/ANY, BPPT.  Jakarta.
Suryana, A. 2004. Arah, Strategi dan Program Pembangunan Pertanian 2005-2009.  Bagan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar